Bagian satu tulisan tentang sikap ini mengulas tentang perbedaan utama
sikap negatif dan positif yang akan menentukan keberhasilan atau
kegagalan dalam hidup. Bagian kedua tulisan ini akan mengulas tentang
sikap yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin ketika menghadapi
berbagai keadaan serta masalah dalam pekerjaan dan pelayanannya.
Membangun Kepemimpinan Dimulai Dengan Menyesuaikan Sikap
Sumber : Matius 5:1-7:29
Pesan
Yesus yang paling terkenal, Kotbah di Bukit memiliki fokus pada hati
pendengarNya. Dia memiliki target murid-muridNya sebagai pendengarNya
(Matius 5:1,2) dan terus berkotbah tentang apa yang kita sebut sekarang
sebagai ”Kata-kata Bahagia”. Dia memanggil orang-orangNya untuk
menjadi berbeda, untuk melihat dunia dari perspektifnya Tuhan, untuk
berhubungan dengan manusia melalui busana supranatural.
Yesus
mendemonstrasikan bahwa mengembangkan kepemimpinan dimulai dengan
membentuk perspektif pendengarnya. Yesus menantang perspektif manusia
normal diatas :
• kemiskinan spiritual dan juga sukses
• kesedihan dan dukacita
• kesabaran dan kelembutan
• gairah dan rasa lapar
• anugerah dan belas kasihan
• kemurnian dan integritas
• pembuat kedamaian dan pembalasan
• penganiayaan dan malapetaka
Sikap : Pemimpin Harus Terfokus pada Kemampuan Tuhan, Bukan Pada Kemampuan Diri Sendiri
Sumber : Matius 20:1-16
Pemimpin
seharusnya sering membaca kisah ini. Ini menggambarkan anugerah Tuhan,
diilustrasikan oleh seorang pemilik lahan dan pengerja kebun anggurnya.
Pekerja menunjukkan pada kita bagaimana seorang pemimpin terlihat
ketika mereka berpaling dari Tuhan dan memakai kemampuan mereka
sendiri. Melalui perumpamaan ini Yesus berusaha mengkoreksi sikap yang
salah. Dia mencoba untuk mengalamatkan dengan benar :
1. Penyerapan Diri
Kita mengomel dan membuat komplain tentang ketidakadilan. Kita berfokus lebih kepada pekerjaan kita dibanding Tuhan.
2. Membandingkan
Kita mengabaikan anugerah Tuhan, dan asik memikirkan status orang lain.
3. Kecongkakan
Kita mengharap terlalu banyak ketika tiba waktunya menerima upah dan melupakan bahwa setiap berkat adalah pemberian.
4. Penyimpangan
Ketika kita menghakimi orang sebagai orang yang tidak pantas, kita tidak memahami tentang keseluruhan kerajaan Allah.
Sikap Positif : Tugas Pertama Yesus Adalah Untuk Mengubah Perspektif Mereka
Sumber : Lukas 6:20-23
Apa
yang Yeus pertama lakukan ketika melatih pemimpin-pemimpinnya? Dia
mengubah perspektif mereka dan juga perilaku mereka. Dia berbicara
tentang memberkati orang miskin, lapar, yang dibenci, dikurung atau
dianiaya. Bicara tentang perubahan sikap!. Pelatihan yang efektif
selalu dimulai dengan sikap dan perspektif, merubah individual dari
dalam keluar.
Sikap Seorang Pemimpin
Sumber : Roma 1:1, 14-16
Paulus
memulai kitab Roma dengan menampakkan dirinya sebagai pelayan sebagai
Tuhan Yesus. Sebelum dia menjadi Rasul atau seorang pengkotbah dalam
kitab Injil, dia adalah pelayan. Ini adalah gambaran paling
komprehensif tentang kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Paulus memakai
bahasa Yunani doulus yang lebih sering ditandai sebagai seorang
pelayan yang telah bersedia dan secara hukum mengikat dirinya sendiri
pada tuannya (Roma 1:1, Filipi 1:11, Titus 1:1).
Perjanjian
Lama memberi latar belakang bagi konsep Ibrani ini (Ulangan 15:1-23).
Ketika datang waktunya bagi tuan melepaskan seorang budak, budak itu
punya pilihan : Menerima kebebasannya, atau tinggal tetap dan melayani tuannya atas dasar pilihan
1. “Saya adalah orang yang berhutang” (ayat 14)
Secara
literal berarti dia memiliki hutang untuk dibayar. Catatlah bahwa ini
bukanlah suatu hutang yang ia miliki pada Tuhan, namun pada
orang-orang. Dia tujukan pada mereka yang belum pernah mendengar
tentang Injil Tuhan.
2. “Saya siap” (ayat 15)
Secara literal kata ini memiliki arti dia merasa terbakar di dalam batinnya. Antusiasmenya datang dari responnya pada Tuhan.
3. “Saya tidak malu” (ayat 16)
Mengapa
tidak? Karena meskipun dia adalah minoritas yang dilecehkan dari
minoritas terkecil namun pesannya adalah membawa kuasa Tuhan untuk
menyelamatkan setiap orang.
Sikap Positif : Sikap Paulus Mencerminkan Keluhuran Hidupnya
Sumber : Filipi 1:12-18
Kesadaran
pribadi bekerja dengan dua cara. Pertama, kita bekerja terhadapnya.
Kemudian, mereka yang bekerja pada kita. Sekali Paulus telah
menjelaskan tentang misi hidupnya, bahwa tujuan harian telah
mengembangkan sikapnya. Di penjara, kapal karam, kala dipukul, melalui
pencobaan dan perdebatan, paul menjaga tetap tersenyum karena kesadaran
kuatnya akan suatu tujuan. Dia mengerti bahwa pemimpin dapat menyerah
pada keadaan yang mereka alami, atau mereka dapat menyerah pada
penyebab yang Maha Kuasa, sementara keadaan menjadi tidak masalah.
Ketika
kita menyerah pada keadaan kita, kita punya hari baik dan hari buruk.
Kita berada dalam kemurahan atas apa yang terjadi dalam diri kita.
Ketika kita menyerah pada penyebab atau tujuan, kita memiliki hari yang
baik sementara kita berjalan, tujuan kita tidak menjadi mati. Sikap
Paulus menolong tujuan hidupnya terus melaju, kemudian tujuan hidupnya
menolong sikapnya untuk maju juga. Sikapnya menolong dia menyimpulkan
bahwa tidak masalah apa yang menimpa dirinya atau pada orang lain
selama misinya terus berlanjut. .
Sikap Positif : Paulus Memiliki Pemikiran Untuk Membuatnya
Sumber : Filipi 4:11-13
Paulus memelihara sikap positif meski pada hari-hari buruk. Dia mengajarkan pada kita bahwa :
1. Sikap punya sedikit untuk dilakukan bersama dengan keadaan (ayat 11).
2. Sikap dapat berubah, seperti juga keadaan (ayat 12).
3. Sikap dapat dikembangkan, jika kita belajar rahasianya (ayat 12).
4. Sikap punya satu sumber untuk kekuatannya (ayat 13). (nat)
Sumber: Maxwell Leadership Bible
(www.jawaban.com)