Masturbasi… dosa atau tidak
-*- MASTURBASI -*-
Di gereja sekarang ini terdapat berbagai pandangan yang sangat
berbeda tentang masturbasi (onani). Ada di antara mereka yang selalu
berpendapat bahwa masturbasi itu dosa, dan ada mereka yang
mengatakan bahwa masturbasi itu merupakan karunia Allah, suatu
pemberian yang bijaksana bagi orang muda.
Salah satu alasan mengapa pendapat-pendapat itu begitu berlainan
adalah karena di dalam Alkitab tidak ada petunjuk yang jelas dan
tegas mengenai masturbasi. Beberapa generasi lalu, Kejadian 38:8-11
dan 1Korintus 6:9,10 dipakai untuk mengutuk masturbasi. Nats yang
pertama bercerita tentang Onani (Red.: nama orang) yang tidak mau
menaati hukum Ibrani Kuno yang menuntut seorang laki-laki untuk
mendapatkan anak dengan janda saudara lelakinya. Nats yang kedua
menyebut "pemburit" yang di dalam versi King James diterjemahkan
sebagai "orang yang menyalahgunakan tubuh mereka sendiri", yang
sekarang diterjemahkan dengan tepat sebagai "kaum homoseksual". Baik
kata "onani" maupun kata "penyalahgunaan tubuh sendiri" dahulu
dipakai untuk menunjuk perbuatan masturbasi, tetapi tidak satu pun
dari ayat itu yang benar-benar berbicara tentang perbuatan tersebut.
Beberapa orang mengemukakan bahwa masturbasi bukan perbuatan yang
salah karena Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang perbuatan itu.
Menggunakan alasan seperti itu bisa berbahaya. Banyak godaan yang
kita hadapi dewasa ini tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab.
Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa masturbasi sudah ada sejak
zaman dahulu dan umum diketahui. Perbuatan ini paling awal disebut
di dalam Egyptian Book of The Dead, sekitar 1500 SM. Kita mengetahui
bahwa Alkitab menyebut hampir tiap kegiatan seksual lainnya –
percabulan, perzinahan, homoseksualitas, hubungan seks dengan
binatang. Perbuatan-perbuatan itu disebut dengan gamblang. Karena
masturbasi merupakan tindakan seksual yang begitu umum sejak dahulu
kala, saya kira kita mempunyai hak untuk bertanya mengapa masturbasi
tidak disebutkan di dalam Alkitab jika itu adalah perbuatan yang
berdosa.
Dari pandangan medis dan ilmu pengetahuan, kita sekarang mengetahui
bahwa masturbasi tidak berbahaya secara mental ataupun fisik. Tidak
ada alasan-alasan moral yang melawan masturbasi berkenaan dengan
kesehatan jasmani, seperti alasan-alasan yang menentang rokok
didasarkan atas bahaya kanker, emfisema (sejenis penyakit paru-
paru), dan penyakit jantung.
Karena tidak ada petunjuk langsung dari Alkitab, dan karena tidak
ada alasan-alasan moral tentang bahayanya bagi kesehatan jasmani,
maka kita harus memakai prinsip-prinsip Kristiani lain untuk
menentukan apakah masturbasi itu benar atau salah. Saya pribadi
menyimpulkan bahwa masturbasi itu sendiri tidak baik dan juga tidak
jahat. Untuk menentukan salah dan tidaknya, pertanyaan-pertanyaan
lain harus diajukan.
1. Apakah kehidupan pikiran bersih?
——————————–
Dalam Matius 5:27,28 Yesus berkata, "Kamu telah mendengar firman:
Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang
memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan
dia di dalam hatinya." Perzinahan dan percabulan mental adalah
salah, dan pasti merupakan penghalang bagi pertumbuhan rohani.
Berkhayal tentang perbuatan yang dianggap dursila bila dilakukan
adalah salah.
Tetapi ini bukan berarti bahwa semua khayalan adalah salah. Saya
mengenal beberapa pasangan suami-istri, yang bila berjauhan,
melakukan masturbasi dan memikirkan satu sama lain. Hal ini
dilakukan dalam lingkungan hidup perkawinan dan tidak dapat
digolongkan sebagai perzinahan mental.
Perlu ditambahkan lagi bahwa tidak semua masturbasi disertai
khayalan. Penyelidikan menunjukkan bahwa kira-kira seperempat
orang laki-laki dan setengah orang perempuan tidak berkhayal pada
waktu mereka melakukan masturbasi. Bagi mereka, masturbasi hanya
merupakan pelepasan fisik dari ketegangan seksual.
Sudah jelas, orang tidak mungkin mempunyai pikiran yang bersih
sementara menggunakan pornografi untuk merangsang khayalan yang
membirahikan mengenai perbuatan-perbuatan haram. Namun ada orang
yang bisa melakukan masturbasi tanpa membayangkan sesuatu yang
najis.
2. Apakah kehidupan sosial dan kekeluargaan sehat?
———————————————–
Ada orang yang memakai masturbasi sebagai pelarian dari kehidupan
sosial. Jika masturbasi menjadi pengganti hubungan kita dengan
sesama, jika dipakai sebagai upaya untuk melarikan diri dari
tekanan kesepian, frustrasi dan depresi, maka perbuatan itu
merugikan kita dan menghalang-halangi pertumbuhan rohani.
Setelah bertahun-tahun memberikan konseling, saya akhirnya
membedakan antara masturbasi sebagai upaya sementara untuk
melepaskan nafsu seksual yang normal dan masturbasi sebagai
kebiasaan yang terus-menerus dilakukan oleh karena goncangan
emosional yang mendalam. Kadang-kadang, masturbasi merupakan
bagian yang tak dapat dielakkan dalam proses pertumbuhan yang
normal, khususnya bagi para remaja laki-laki. Sebaliknya,
masturbasi yang terus-menerus, disebabkan oleh problema yang
serius: ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain,
khususnya dengan lawan jenisnya; depresi dan rasa dendam yang
mendalam. Dalam situasi seperti ini, masturbasi merupakan gejala
dari persoalan yang lebih mendalam.
Orangtua, pendeta, dan para konselor Kristen harus belajar untuk
mengetahui perbedaan antarbermacam-macam jenis masturbasi. Bagi
kebanyakan orang Kristen, masturbasi merupakan dalih untuk rasa
bersalah mereka, padahal masalah yang sebenarnya bukanlah
masturbasi itu.
Jika seseorang kuatir tentang masturbasi, bagaimana ia dapat
mengatasinya?
Biasanya, untuk menyerang secara langsung perbuatan ini dari segi
rohani adalah sia-sia. Hal ini tidak memperkecil persoalan tetapi
justru memperburuknya. Membangkitkan perasaan gelisah tentang
masturbasi, justru merangsang perbuatan itu. Sebenarnya, serangan
secara langsung itu sering menciptakan lingkaran ke bawah: orang
yang bersangkutan itu berusaha berdoa dan membaca Alkitab serta
berjanji akan berhenti, tetapi ia tak mampu menepati janjinya lalu
merasa tidak enak sekali, dan mengulangi pendekatan ini lagi.
Berdoa bisa menolong — atau bisa merusak. Doa yang merusak adalah
negatif. Doa-doa itu mengatakan kepada Allah betapa buruknya kita,
sehingga doa itu malah menciptakan rasa bersalah, keresahan, dan
depresi yang lebih hebat. Doa yang menolong mengucapkan perkataan
yang meyakinkan kasih Allah yang menerima kita apa adanya. Doa itu
akan menunjuk kepada kesetiaan-Nya walaupun kita gagal. "Terima
kasih, ya Tuhan, karena Engkau mengasihiku, menyembuhkanku, dan
menolongku dalam semua persoalanku." Berdoa dengan positif menolong
untuk mematahkan lingkaran keputusasaan dan rasa bersalah.
Tak seorang pun yang dapat memastikan, apakah masturbasi yang
menimbulkan rasa bersalah, atau rasa bersalah itu yang mendorong
untuk melakukan masturbasi. Apa pun masalahnya, menyerang keadaan
itu secara langsung akan membuatnya semakin buruk. Jauh lebih baik
untuk mengalihkan pikiran mereka dari rasa bersalah dan kecemasan
mereka dengan menerangkan bahwa salah dan benarnya perbuatan itu
bergantung pada faktor-faktor lain.
Jadi, bagaimana seseorang harus menghadapi masturbasi? Hadapi secara
tidak langsung. Perhatikan kehidupan sosial, jalin hubungan dengan
orang lain. Bergaullah, jangan berkhayal. Adakan kegiatan di luar
rumah dengan orang lain. Carilah teman, khususnya dari lawan jenis –
orang-orang sesungguhnya dapat Anda senangi tanpa berkhayal secara
seksual tentang mereka.
Jikalau seseorang melakukan hal ini, kadang-kadang kebiasaan yang
terus-menerus menguasai dirinya itu dapat dihentikan hanya dalam
beberapa minggu atau bulan. Masturbasi tidak lagi menjadi pusat
perhatian eksistensi orang itu, melainkan menjadi cara yang kadang-
kadang digunakan untuk mengurangi ketegangan seksual. Bahkan,
akhirnya orang itu mungkin meninggalkannya sama sekali.
Sukacita yang sejati yang terdapat dalam persahabatan dan pergaulan
melalui hubungan kencan yang sehat bisa memenuhi kebutuhan yang
dahulu dipenuhi oleh suatu cara yang tidak memuaskan. Orang itu
tidak perlu lagi melakukan masturbasi. Ia telah tumbuh, menjadi
dewasa, dan meninggalkan sifat kekanak-kanakannya.
-*- Sumber diedit dari: -*-
Judul Buku : Pola Hidup Kristen
Judul Artikel : Masturbasi
Penulis : David A. Seamands
Penerbit : Kerjasama antara Penerbit Gandum Mas, Yayasan Kalam
Hidup dan YAKIN
Halaman : 823 - 827
*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*
(Artikel 2)
-*- MASTURBASI: MASALAH KLASIK PRIA -*-
"Pria melihat seks di mana-mana dan di dalam segala hal. Di rok
mini, celana jeans ketat, keramahan, dan bahkan senyuman. Pria
memiliki kemampuan mengubah hampir segala hal ke dalam obsesi yang
dapat memuaskan dorongan-dorongan erotis. Tapi di sisi lain, ada
semacam memori di dalam pikiran pria yang mengatakan bahwa ia harus
mengendalikan hormonnya. Jadi, tidak mengherankan jika pria suka
bingung dengan seksualitas diri mereka," kata Dr. Archibald D. Hart,
dekan Graduate School of Psychology di Fuller Theological Seminary
di California, yang juga penulis buku "The Sexual Man".
Dan khusus bagi pria lajang, umumnya akan mengalami masalah dengan
urusan onani (masturbasi). Di mata medis, efek jelek bermasturbasi
lebih pada kerisauan batin pada diri pelaku sendiri. Orang yang
rajin beronani menjadi "sakit" bukan lantaran onani mengakibatkan
dengkul menjadi kopong, melainkan karena kegundahan akibat ia merasa
yakin dirinya sedang dipelototi Tuhan.
Secara medis, tidak ada alasan yang bisa mendasari larangan untuk
beronani, tapi sebaliknya, tidak ada dasar medis juga yang
menganjurkan agar orang berbondong-bondong melakukan masturbasi.
Sperma yang tidak tersalurkan tidak bakal menjadi batu atau berubah
menjadi jimat. Tanpa perlu diperintah lagi, sperma ini dengan
sendirinya akan diserap oleh tubuh, tanpa menyisakan efek buruk.
Jadi, masalahnya cuma pada bagaimana setiap pria lajang bisa cerdas
mengendalikan diri. Saya rasa itu lebih pada soal muatan niat saja.
Selama pria lajang tidak rela terbawa terus oleh preokupasi seks
dari waktu-waktu luangnya, ia tidak bakal mudah terhanyut oleh
dorongan hormon testosteron yang membuat gairah seksnya meningkat.
Pengaruhnya pada Keintiman Pernikahan
————————————-
Walau tidak memberi dampak secara medis, masturbasi dapat memberi
dampak pada keintiman dan kelanggengan pernikahan. Dari penelitian
yang dilakukannya, Dr. Archibald mengatakan bahwa pria yang
bermasturbasi akan terus melakukannya sekalipun telah menikah.
Mereka bermasturbasi karena ketagihan. Kecanduan ini terbentuk sejak
masa remaja, biasanya dalam konteks disalahkan atau tabu yang kuat.
Obsesi ini menjadi tidak sehat untuk pernikahan karena para suami
akhirnya merasa bahwa hubungan seks kurang memuaskan. Penggunaan
fantasi membawanya kepada pelukan orang lain atau kepada film porno
favoritnya. Ia tidak memprioritaskan hubungan seks dan keintiman
yang semestinya dengan pasangannya. Padahal, hanya keintimanlah yang
dapat membangun ikatan seksual yang lebih baik antara suami dan
istri.
-*- Sumber diambil dari: -*-
Judul Majalah: GetLIFE!, Edisi #04
Judul Artikel: Masturbasi: Masalah Klasik Pria
Penulis : dr. Handrawan Nadesul
Penerbit : Yayasan Pelita Indonesia, Bandung, 2004
Halaman : 61
*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*–*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*
-*- PERSPEKTIF ALKITABIAH: MASTURBASI -*-
Meskipun masih banyak orang yang memperdebatkan apakah masturbasi
itu berdosa atau tidak, namun beberapa ayat berikut ini kami
harapkan mampu menjadi landasan bagi Anda untuk menjawab kontroversi
ini. Berikut ini ayat-ayat tersebut:
Fantasi seksuil dalam perzinahan : Matius 5:27-28
Jangan membawa diri dalam pencobaan: Yakobus 4:7-8
Tuhan menghendaki pertobatan kita : 1Yohanes 1:7b
Belajar memikirkan hal-hal yang baik dan berkenan kepada Tuhan:
Filipi 4:8; Roma 12:1-2; Kolose 3:2.
-*- Sumber diambil dari: -*-
Judul Buku : Buku Panduan Pelayanan Konseling Melalui Telepon
Penulis : Pdt. Dr. Yakub B. Susabda; Dr. Esther Susabda;
Ir. Asriningrum Utami; Dra. Iis Achsa, S.Th.;
Lanny Pranata, B.A.; Dra. Lily Yuliana
Penerbit : People Helpers Ministry Indonesia, Jakarta, 1998
Halaman : 42
*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*
-*- MENGHILANGKAN KEBIASAAN MASTURBASI -*-
Suatu kebiasaan ialah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang tanpa
mempertanyakan ataupun meragukannya. Untuk menghilangkan kebiasaan
melakukan masturbasi, seseorang harus membuat usaha terencana untuk
menolaknya atau memutuskan kebiasaan yang mendorong dan bersifat
spontan tersebut.
PERTAMA, Anda harus mempunyai kemauan untuk mengubahnya. Niat yang
tulus untuk mengubah kebiasaan berdosa ini harus diucapkan kepada
Allah dalam doa. Katakanlah kepada Allah bahwa Anda benar-benar
ingin menghentikan kebiasaan ini, bahwa Anda merasa tidak mampu
mengendalikannya, dan bahwa Anda tidak sanggup menghilangkan
kebiasaan ini tanpa pertolongan-Nya. Mintalah pertolongan-Nya,
dengan penuh keyakinan dan kepercayaan. Katakanlah kepada-Nya bahwa
Anda mengharapkan-Nya untuk memberi kekuatan dan disiplin diri yang
Anda perlukan. Mungkin Anda perlu mendoakan hal ini beberapa kali.
KEDUA, mulailah mempelajari dan mengingat kembali mengenai kebiasaan
masturbasi Anda. Pelajarilah polanya. Berapa kali hal itu terjadi?
Di mana dan kapan Anda melakukannya? Bagaimanakah perasaan Anda
secara fisik ataupun emosional pada saat melakukannya? Sebagai
contoh, seseorang mendapati bahwa ia selalu melakukan masturbasi
pada larut malam, di tempat tidurnya ketika ia merasa sangat lelah.
Orang yang lain mendapati bahwa hal itu terjadi bila ia merasa
kosong dan agak depresi.
KETIGA, pelajarilah penggunaan metode berikut untuk memutuskan atau
menghentikan kebiasaan masturbasi. Metode ini terdiri atas lima hal
yang harus Anda lakukan, yaitu:
1. Situasi yang Berbahaya
———————-
Keadaan atau situasi berbahaya yang bagaimanakah yang Anda
alami ketika melakukan masturbasi? Misalnya, apakah Anda
melakukannya setiap kali Anda berada di tempat tidur, atau
pada pagi hari ketika Anda sedang mandi, bila Anda merasa
bosan dan gelisah? Saat-saat ini merupakan saat berbahaya bagi
Anda. Dengan mewaspadai saat atau keadaan berbahaya ini serta
mengubahnya bila itu dapat Anda lakukan, maka seharusnya Anda
mulai dapat mengurangi kebiasaan masturbasi Anda.
2. Tindakan atau Perbuatan
———————–
Perbuatan apakah yang Anda lakukan untuk merangsang diri,
apakah dengan mata, tangan, atau tubuh Anda? Anda harus
mengambil keputusan untuk memperhatikan hal ini serta
menghentikannya.
3. Ayat Alkitab
————
Gunakanlah ayat-ayat tertentu dalam Alkitab yang telah Anda
hafalkan untuk memperkuat keputusan Anda dan mintalah
pertolongan Allah bila Anda tergoda untuk melakukan
masturbasi. Carilah ayat-ayat berikut dan cobalah
menghafalkannya: Mazmur 37:5; 46:2;
Yesaya 26:3;
Matius 4:4; 7:10;
Roma 8:28;
Filipi 4:13,19.
4. Minat atau Niat
—————
Ucapkanlah kata-kata berikut ini dengan tegas dalam diri Anda,
"Saya tidak berminat melakukan masturbasi karena …"
- Saya tidak mau berbuat dosa.
- Saya tidak menyukai citra diri saya ini.
- Saya adalah manusia baru dalam Kristus.
- Hal itu tidak berguna bagi harga diri saya.
- Hal itu membuat saya merasa sebagai orang yang munafik
atau curang.
- Saya memiliki pengendalian diri untuk menghilangkan
kebiasaan ini.
5. Pola Pikir
———-
Dengan penuh kesadaran, ubahlah pola pikir Anda. Kebiasaan
melakukan masturbasi selalu dirangsang oleh pikiran-pikiran
yang bersifat erostis dan seksual. Bila pikiran-pikiran
semacam itu timbul, sangat penting bagi Anda untuk "menawan
segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus," (2Korintus
10:5b). Cara yang efektif untuk melakukan hal ini ialah
mengatakan dengan tegas, "Berhenti!" Kemudian mulailah
mengalihkan diri Anda dengan kegiatan atau pikiran lain.
[Dalam bahasa Inggris, kelima hal tersebut dapat disingkat sebagai
HABIT --> H: Hazardous Situation (Situasi yang Berbahaya),
A: Action (Tindakan atau Perbuatan),
B: Bible Verses (Ayat-ayat Alkitab),
I: Intentions (Minat atau Niat),
T: Thought (Pola Pikir).
Dalam bahasa Inggris sendiri, kata "habit" berarti kebiasaan.]
Bila dengan penuh kesadaran Anda berusaha melaksanakan kelima hal
tersebut, Anda akan mampu mengurangi kebiasaan masturbasi. Allah
pasti akan menguatkan dan memberkati usaha-usaha Anda ini. Ingatlah,
"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa
yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Samuel 16:7)
-*- Sumber diedit dari: -*-
Judul Buku: Tidak Lagi Homo
Penulis : Dr. William Consiglio
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1998
Halaman : 102 - 104

